Pages

Jumat, 01 Juli 2016

Lari Pagi di Desa Durian

Desa Brongkol Kecamatan Jambu Kabupaten Semarang memang layak diberi julukan Desa Durian. Ratusan bahkan ribuan pohon durian tumbuh di sini. Soal rasa jangan ragukan lagi. Manisnya legitnya aromanya hmmm sangat menggoda. Ini bukan omong kosong. Durian Kendil, Kopek, Sukun, Kenteng, Mentega, Tumbu, Moho, dan Vera adalah sederet nama durian asli desa ini yang telah berhasil menjuarai lomba durian di berbagai festival durian dari tingkat daerah sampai nasional.

Bak lukisan anak-anak SD. Itulah perumpamaan yang pas untuk menggambarkan lokasi ini. Jalan lurus berujung di kaki gunung, hamparan sawah di kanan dan kiri jalan, dan ditambah dengan matahari terbit yang sedang tersenyum. Itulah gambar pemandangan alam yang umum di lukis oleh anak-anak. Di sini Anda dapat menyaksikan versi nyata dari gambar tersebut.

Terlepas dari buah durian. Ketika berada di desa ini pernahkah Anda melewati sebuah jalan panjang dan lurus yang menghubungkan dua desa? Jalan ini menghubungkan dua desa yaitu, Desa Brongkol dan Desa Jambu. Pemandangan alam dan udara sejuk khas pedesaan adalah hal yang menarik dari tempat ini. Dijamin akan menyegarkan mata dan paru-paru Anda.

Di sebelah selatan, jalan ini berujung di kaki Gunung Kelir dimana Desa Brongkol berada. Sebaliknya di sebelah utara, jalan ini berujung di Desa Jambu. Jika cuacanya sangat cerah Anda dapat melihat puncak Gunung Ungaran dari arah ini. Di sebelah timur dan barat terdapat lahan persawahan yang sangat luas.

Pagi di hari minggu jalan ini menjadi lebih ramai dari biasanya. Jalan ini digunakan oleh masyarakat untuk bersepeda santai, lari pagi, jalan-jalan, dan berfoto selfi. Karena berada di area persawahan angin di sini berhembus kencang. Perpaduan sinar hangat matahari pagi dan hembusan angin yang sejuk dijamin membuat Anda betah di sini.
berfoto di jalan yang menghubungkan Desa Brongkol dan Desa Jambu
Sepulang dari lari pagi Anda dapat membeli sarapan di Pasar Brongkol. Terdapat aneka makanan dijual di sini seperti, gorengan, gemblong, bubur, dan lauk pauk ala rumahan. Harganya murah meriah. Bubur hangat dengan porsi sedang bisa dinikmati dengan membayar 3000 rupiah saja.

Lokasi ini dapat dijangkau dari Ambarawa dan Salatiga. Tidak ada kendaraan umum yang akan mengantar Anda tepat di lokasi ini sehingga disarankan untuk menggunakan kendaraan pribadi. Dari Ambarawa Anda harus menuju ke arah Banyubiru. Setelah kurang lebih 5 km Anda akan menemukan sebuah pertigaan dimana di situ terdapat sebuah mini market. Ambil jalan ke kanan dan jalan terus sampai Anda tiba di perempatan besar dimana di situ terdapat pasar tradisional. Lalu ambil jalan ke kanan. Anda akan memasuki area perkampungan. Sampailah Anda di tempat tujuan. Jika Anda dari arah Kota Salatiga Anda harus menuju ke arah Banyubiru. Setelah melewati Akademi Kepolisian di kanan jalan Anda akan menemukan pertigaan besar. Jalan terus sampai Anda menemukan pertigaan selanjutnya dimana di situ terdapat sebuah mini market. Lalu lanjutkan seperti petunjuk di atas.


Lokasi ini bukanlah tempat wisata. Jadi Anda tidak akan dipungut biaya untuk masuk alias gratis. Anda cukup membayarnya dengan bersikap sopan dan menjaga kebersihan selama di lokasi. Jangan sampai bungkus-bungkus makanan bekal Anda berserakan dan terbawa angin sehingga mengotori sawah milik warga. Jangan menyepelekan walau hanya bungkus permen. Dan jangan lupa siapkan ekspresi selfie terbaik Anda. Selamat mencoba. 

Rabu, 29 Juni 2016

Merbabu Si Abu-Abu

Ada beberapa versi cerita asal muasal nama Merbabu. Ada yang bilang Merbabu berasal dari kata meru (gunung) dan babu (wanita) yang artinya gunung wanita. Versi lain mengatakan Merbabu berasal dari kata meru (gunung) dan abu (abu) yang artinya gunung yang berwarna abu-abu / gunung yang berselimut abu. Ini adalah pendapat yang banyak dipercaya oleh masyarakat. Memang jika dilihat dari kejauhan Gunung Merbabu tampak berwarna abu-abu.

            Gunung Merbabu merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif. Tercatat terakhir meletus pada tahun 1797. Merbabu berada di empat wilayah yaitu, barat Kabupaten Magelang, timur Kabupaten Boyolali, selatan Kota Salatiga, dan utara Kabupaten Semarang. Gunung ini berketinggian 3142 mdpl. Gunung ini bisa didaki lewat beberapa jalur yaitu, jalur Thekelan, Cunthel, Suwanting, Wekas, Selo, dll. Pada kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya mendaki Gunung Merbabu via Cunthel bersama teman-teman.

            Kami memulai perjalanan dari Kota Semarang. Dari sini menuju basecamp pendakian kami memilih untuk menggunakan transportasi umum. Kami menumpang mini bus jurusan Semarang-Salatiga bertarif Rp. 10000. Tiba di Kota Salatiga kami turun di Pasar Sapi. Lalu menumpang lagi angkot jurusan Salatiga-Kopeng bertarif Rp. 5000. Kemudian kami turun di Jalan Umbul Songo. Dari sini tidak ada angkutan umum yang mengantar kami menuju basecamp. Untung saja ada teman kami, penduduk asli, berbaik hati mengantar kami menuju basecamp.

            Basecamp yang kami tuju terletak di Dusun Cunthel Desa Kopeng Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Bangunan basecamp berada di kiri jalan tepat sebelum masuk area perkampungan. Di basecamp ini semua pendaki wajib mengisi data diri dan membayar karcis sebesar Rp. 15.000. Terdapat tempat parkir yang cukup luas di sini sehingga bagi pengunjung yang membawa mobil tidak perlu khawatir. Terdapat juga counter yang menyediakan aneka souvenir seperti gantungan kunci, stiker, dan kaos.
 
Basecamp Manggala Cunthel
             Kami bertujuh mulai mendaki pukul 10.30. Menurut petugas di basecamp, pendakian biasanya memakan waktu 8 jam dari basecamp sampai ke puncak dan bisa lebih untuk pendaki pemula. Terdapat 2 pos bayangan dan 3 pos utama yang harus dilewati. Biasanya para pendaki mendirikan tenda di pos 3, di Puncak Menara, atau di Puncak Syarif. Kami berharap agar bisa sampai di camping ground sebelum matahari tenggelam sebab berbahaya jika melakukan pendakian di malam hari dengan kapasitas kami sebagai pendaki pemula.

            Setiap pos ditandai dengan plang hijau berisi infomasi nama pos, ketinggian, dan jarak ke pos selanjutnya. Di pos bayangan 1 terdapat bangunan gazebo permanen kira-kira berukuran 3x3. Cocok dijadikan tempat berteduh jika sedang hujan. Di pos bayangan 2 tidak terdapat bangunan seperti sebelumnya. Namun, di sini ada sumber mata air. Biasanya para pendaki beristirahat di sini sambil mengisi air untuk bekal. Di pos 1 terdapat beberapa bongkahan batu besar. Oleh sebab itu, pos ini dinamakan Pos Watu Putut. Selanjutnya di pos 2, tanah di sini lumayan datar. Cukup untuk mendirikan 1 atau 2 tenda. Pos ini dinamakan Pos Kedokan. Di pos ini kami sudah berada di ketinggian 2430 mdpl. Pos terakhir adalah Pos Kergo Pasar. Tanah di pos ini datar dan sangat lapang. Para pendaki biasanya mulai mendirikan tenda di pos ini. Di pos ini juga Gunung Andong, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran bisa disaksikan keindahannya.
 
Pos 2 Kedokan

                        Perjalanan dari pos 3 ke Puncak Menara adalah perjalanan terberat dibanding dengan perjalanan menuju pos-pos sebelumnya. Trek menanjak hampir 30 %. Di sekitar trek pepohonan dan semak-semak sudah mulai jarang sehingga jika jatuh bisa berbahaya. Saking lelahnya kami lama kelamaan berjalan merangkak dan terpleset. Sesekali kami menengok ke belakang untuk melihat pemandangan Gunung Andong, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Beruntung sekali pada sore itu kabut sedang bersahabat sehingga kami dapat melihat pemandangan dengan jelas. Semburat kuning sinar matahari tenggelam menambah keindahan pemandangan sore itu. Perlahan tapi pasti matahari tenggelam ufuk barat. Begitu juga dengan perjalanan ini perlahan tapi pasti akan sampai pada tujuan.
Gunung Andong, Telomoyo, dan Ungaran


            Pukul 19.00 kami tiba di puncak yang terdapat menara pemancar di situ atau biasa disebut Puncak Menara. Di sini kami berada di ketinggian 2847 mdpl. Banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda di sini. Untuk lewat saja kami harus berhati-hati agar tidak tersandung tali tenda. Kami beruntung masih ada tempat untuk mendirikan satu tenda. Malam ini Merbabu sedang diserbu ratusan pendaki karena malam ini adalah malam terakhir di bulan Desember. Para pendaki berombongan ada juga yang sendiri ingin menikmati perayaan pergantian tahun di atas awan. Kelap-kelip lampu kota bagaikan bintang-bintang bertaburan di muka bumi. Itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan pemandangan di bawah. Sesekali kembang api menyala dari bawah. Terlihat sangat kecil sekali. Namun, suaranya terdengar sampai di sini.

            Semakin malam udara semakin dingin. Semakin malam angin berhembus semakin kencang menghantam tenda dari kanan dan kiri. Syukur Alhamdullilah tenda kami masih berdiri sampai pagi.

            Sebelum fajar para pendaki memulai perjalanan lagi menuju puncak tertinggi yaitu Puncak Kenteng Songo. Menurut salah satu pendaki, matahari terbit tidak akan terlihat jika kita berada di Puncak Menara sehingga harus melanjutkan perjalanan sebelum fajar.

            Pemandangan pagi di Puncak Menara sangat indah. Matahari tebit dari sebelah timur. Keindahannya tidak bisa kami nikmati seutuhnya karena terhalang puncak-puncak Merbabu. Hanya terlihat sinarnya saja dari sini. Gumpalan awan bagai kapas muncul secara bersamaan. Indah sekali. Dihiasi dengan warna kuning keemasan gumpalan awan tersebut seperti jalan menuju nirwana. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan kami langsung mengeluarkan kamera dan mengabadikan momen berharga ini.
Samudra Awan

            Saat hari benar-benar terang sekitar pukul 07.00 kami melanjutkan perjalanan. Trek berupa bebatuan. Kanan kiri jurang. Kadang menuruni bebatuan. Kadang menaiki bebatuan. Tiba di persimpangan jalan terdapat plang petunjuk arah. Plang tersebut menunjukkan bahwa jalan ke puncak lurus ke depan. Di persimpangan itu kami bertemu dengan salah seorang pendaki. Menurut penuturannya, jalan ke puncak bisa ambil jalur yang sebelah kiri. Jika lewat jalur ini tidak akan melewati Jembatan Setan yang menjadi momokku sejak awal. Kami menurut saja.

            Awalnya trek menurun berupa bebatuan. Setelah itu kami melewati area seperti kawah yang sudah mati. Bau belerang sangat menyengat. Lalu kami melewati sumber mata air. Di sini banyak pendaki yang sedang mengisi botol-botol minumannya. Kami berjalan lurus. Kemudian naik melewati trek berupa tanah. Dan akhirnya kami mencapai trek mendatar. Kami berjalan lurus ke arah kanan. Semakin maju hatiku semakin ragu bahwa jalan ini akan membawa kami menuju puncak Kenteng Songo. Pasalnya semakin maju jalan semakin sempit bahkan hanya cukup untuk dilewati satu telapak kaki. Kami juga tidak berpapasan dengan pendakian lain. Sepertinya jalan ini jarang dilintasi.

            Tiba-tiba dari arah barat kami mendengar suara orang berteriak menanyakan kami mau kemana. Kami menjawab kami ingin ke puncak Kenteng Songo. Orang tersebut meminta kami untuk berbalik arah karena jalan yang kami lewati salah. Sesampainya di persimpangan awal kami bertemu dengan pemilik suara tadi. Ternyata beliau adalah petugas yang bertanggung jawab mengawasi para pendaki di area puncak. Beliau berkata bahwa jalan yang kami lewati tadi adalah jalur pendakian ritual. Jalur tersebut merupakan jalur khusus untuk melakukan ritual di Gunung Merbabu. Jadi bukan kapasitas kami untuk melewati jalur tersebut. Jika diteruskan bukan puncak yang akan kami dapati tetapi kesasar dan bisa saja tidak bisa pulang.

            Dengan alasan keamanan para pendaki dilarang berada di puncak kenteng songo lebih dari jam 10. Maka dari itu kami memutuskan untuk kembali ke tenda saja. Jika kami memaksa untuk melanjutkan perjalanan tentu waktunya tidak akan cukup mengingat jarak yang masih jauh dan waktu yang terbatas. Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini adalah ikutilah jalur resmi sesuai petunjuk dan jangan bersikap sembrono.

            Setibanya di tenda kami berkemas. Penjalanan turun lebih cepat daripada saat naik. Sesampainya di basecamp kami melapor kembali kepada petugas. Di sekitar basecamp ada beberapa penjual jajanan keliling seperti bakso kuah. Suasana dingin seperti ini memang cocok makan makanan yang hangat dan berkuah.


            Pendakian di Gunung Merbabu memberi kenangan indah dan pengalaman berharga. Walaupun belum mencapai puncak tertinggi hal itu tak mengurangi rasa syukur kami. Kami bersyukur bisa kembali ke rumah dengan selamat sehingga bisa melakukan perjalanan lagi menjelajah bumi nusantara yang indah. Terima kasih Tuhan yang telah memberi kami kesempatan menyaksikan dan mengagumi keindahan ciptaanmu.

Kamis, 18 Februari 2016

Awas Harimau

Cerita ini aku alami saat sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata di Dusun Thekelan, salah satu dusun di Gunung Merbabu. Jengkel dan konyol bila aku teringat kejadian ini. Begini ceritanya.

Bosan dan jenuh melanda hati dan pikiran. Ada banyak waktu luang dalam sehari. Sungguh sia-sia jika hanya dihabiskan untuk bersantai di posko. Lalu aku dan ketujuh temanku memutuskan untuk pergi ke air terjun yang ada di sebelah timur dusun ini. Cusssss let’s go. My Trip My Adventure.

Tempat ini sudah aku icar sejak hari pertama KKN. Rencana pergi selalu batal dengan berbagai alasan: sudah sore, hujan, habis hujan jalan licin, air terjun kering, dll.

Air terjun ini berada di kawasan hutan Gunung Merbabu. Namun tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga. Kira-kira hanya berjarak 1 kilometer. Sepanjang perjalanan kami melewati jejeran hutan pinus. Indah sekali. Seperti pemandangan alam di film-film Bollywood. Cocok dijadikan spot berfoto. Kami pun tak melewatkan kesempatan ini.
Berfoto di hutan pinus Dusun Thekelan

Perjalanan menuju air terjun

“Ehh itu ada monyet” ujar salah satu temanku.

Aku merinding. Kurangkul tangan teman yang berjalan persis di depanku.

“Ada segerombolan. Warnanya putih”.

Aku semakin ketakutan. Sepanjang perjalanan kedua mataku melihat sekeliling untuk berjaga bila ada monyet yang tiba-tiba mendekat. Jika hanya satu ekor mungkin aku tak setakut ini. Namun ini segerombol monyet hutan yang liar. Mereka memekik menambah ketakutanku saja.

Kalau tidak salah dengar semalam Pak Kadus (Kepala Dusun) bercerita bahwa di kawasan hutan Gunung Merbabu masih terdapat satu ekor harimau. Keyakinanku bertambah ketika teman-temanku yang lain juga berpikiran seperti itu. Kewaspadaanku meningkat.

“Harimau. Awas ada harimau !!!!!” teriak salah satu temanku tiba-tiba yang berjalan memimpin di depan.

Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menyelamatkan diri. Aku lihat teman-temanku yang lain juga tidak kalah panik. Beberapa langkah berlari aku mendengar suara tawa terbahak-bahak. Aku berhenti dan menengok kebelakang. Ternyata ini hanya guyonan semata dan dengan mudah aku percaya hahahahha.
Tertawa bersama

Tidak hanya aku saja yang tertipu. Bahkan sampai ada yang menangis karena panik dan ketakutan. Untung aku hanya berlari saja. Tidak sampai nekat terjun ke jurang atau naik pohon pinus.

Lalu kami memutuskan untuk kembali ke posko saja. Gokil, jengkel, sebal, dan lucu rasanya. Aku ingin jambak rambut teman yang berteriak harimau tadi. Dia berhasil menjahili kami semua.

Pak Kadus sekeluarga tertawa terbahak-bahak mendengar cerita ini. Beliau mengkonfirmasi bahwa di kawasan hutan Gunung Merbabu sudah tidak ada harimau lagi.

“Harimau sudah tidak ada Mbk disini. Tapi kalau monyet banyak” ujar Pak Kadus.

“Iya Pak tadi ada segerombolan. Tuh nyasar satu sampai sini” ujar temanku sambil menunjuk.

Cerita ini berakhir dengan gelak tawa kami bersama Pak Kadus sekeluarga.

Selasa, 29 Desember 2015

THE TALENT OF MINE



Bakat adalah suatu anugrah dari Tuhan yang diberikan kepada kita manusia. Ada yang pandai bermain musik, menggambar, menulis, menari, dan masih banyak lagi. Tidak ada manusia yang terlahir tanpa bakat. Sudahkah kamu menemukan bakatmu ?

Perjalanan menemukan bakat bagiku penuh suka dan duka. Perjalanan dimulai ketika aku duduk di bangku SMP dan berakhir di bangku kuliah. Pada saat itu aku sangat terobsesi untuk menemukan bakatku. Semua bidang aku coba tekuni. Menari, menggambar, acting, olahraga, organisasi, paskibra, berbisnis. Namun, tak ada yang membuatku bertahan. Nilai mata pelajaranku juga tidak terlalu menonjol. Aku juga tidak pernah menjuarai perlombaan apapun. Aku selalu bertanya-tanya. Sebenarnya apa bakatku apa kelebihanku apa yang spesial dariku. Aku galau.

Di bangku SMP aku mengikuti berbagai macam ekstrakulikuler. Pramuka, paskibra, drama, dan basket. Pada awalnya aku sangat antusias saat mengikuti kegiatan sepulang sekolah tersebut. Namun lama-lama aku mulai merasa bosan dan berfikir bakatku bukan di situ.

Di bangku SMA kelas 1 aku mulai semangat untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler lagi. Aku bergabung di club Bahasa Inggris, kewirausahaan, dan pramuka. Penyakit lamaku kambuh yaitu penyakit bosan. Club kewirausahaan dan pramuka aku lepas. Tinggal club Bahasa Inggris yang masih aku pertahankan.

Setitik cahaya harapan menyinari jiwaku. Aku diminta mewakili sekolah dalam lomba Spelling Bee yang diadakan oleh salah satu universitas swasta di daerah Semarang. Aku sangat bahagia. Aku ceritakan kepada keluarga dan teman-temanku. Mereka sangat mendukungku dan berharap aku menjadi pemenang. Inilah bakatku ? Aku masih bertanya-tanya.

Keberuntungan tidak berpihak kepadaku. Aku kalah jauh dengan siswa-siswi dari sekolah lain. Mereka semua pandai-pandai. Hal ini mengecilkan hatiku. Aku ciut. Aku putus asa.
Setelah lulus SMA aku melanjutkan ke bangku perkuliahan. Jurusan apa yang harus aku ambil ? Apa bakatku ? Apa kelebihanku ? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuiku kembali.
Aku memutuskan untuk mengambil jurusan Bahasa Inggris. Nilai Bahasa Inggrisku memang yang paling tinggi di antara nilai mata pelajaranku yang lain. Aku juga pernah mewakili sekolah di perlombaan Bahasa Inggris. Hanya hal ini yang menjadi alasanku.

Aku mulai berpetualang lagi mencari bakatku. Aku aktif dalam club Bahasa Inggris, organisasi kerohanian dan organisasi mahasiswa tingkat fakultas. Aku juga aktif mengikuti seminar-seminar. Seperti sebelumnya pasti ada yang aku lepas. Semua aku tinggalkan.

Aku berada di titik jenuh. Yang aku cari belum juga ku dapatkan. Pada suatu hari aku meluapkan perasaanku tentang hal ini kepada seorang teman. “Gimana yah cara menemukan bakat dalam diri kita ?” tanyaku. “Jadi begini Isna, sekarang aku tanya kegiatan apa yang bikin Isna lupa sama waktu. Pokoknya kalau sedang melakukan kegiatan itu Isna bisa bener-bener hanyut sama suasana.” tanya temanku balik. Aku berfikir dalam. Namun, tidak menemukan sesuatu apapun.

Pada suatu hari aku meminjam buku tentang kepribadian di perpustakaan daerah. Buku tersebut ditulis dengan gaya yang sederhana sehingga aku mudah memahaminya. Di buku tersebut tertulis bahwa ada empat macam kepribadian manusia: sanguinis, melankolis, koleris, dan plegmatis. Di buku tersebut juga terdapat tes kepribadian. Aku isi soal demi soal. Aku tidak sabar mengetahui hasilnya. Aku sangat penasaran.

Hasil tes tersebut mengatakan bahwa aku termasuk kedalam kepribadian melankolis. Orang dengan tipe ini memiliki kepribadian serius, analitis, jenius, dan perfeksionis. Benarkah aku seperti itu ?

Aku membaca buku tersebut dari awal hingga akhir. Pada bab yang menjelaskan tentang tipe melankolis aku membaca dengan lebih serius. Aku membaca ciri-ciri orang dengan tipe kepribadian melankolis. Aku merefeksikan diri. Hampir semua yang dikatakan oleh buku itu benar. Aku si melankolis. Ada perasaan lega dan bahagia dihatiku. Aku telah menemukan bakatku.

Di buku tersebut tertulis ada beberapa profesi yang cocok untuk si melankolis. Salah satunya yaitu penulis. Aku mencoba dunia baru ini. Dunia kepenulisan.

Saat browsing internet untuk keperluan tugas kuliah tidak sengaja aku menemukan informasi tentang lomba menulis. Tidak salahnya jika aku mencoba. Aku menulis tentang pengalamanku saat mendaki Gunung Ungaran. Aku kirim tulisan tersebut ke email penyelenggara. Aku sangat tidak menyangka. Tulisanku masuk tiga puluh besar nasional dan diterbitkan. Senang sekali rasanya.

Semenjak itu aku bersemangat untuk membuat tulisan-tulisan tentang apa saja: pengalaman pribadi, review buku, puisi, cerpen, tips, dll. Aku membuat blog untuk tulisan-tulisanku agar bisa dibaca oleh publik. Di waktu luang aku mengikuti lomba-lomba menulis yang diadakan secara online. Aku juga mengirim tulisan-tulisanku di buletin lokal. Alhamdullilah dua tulisanku diterima. Aku semakin yakin bahwa inilah bakatku.

Materi tulisan aku dapat dari membaca buku. Aku meminjam buku dari perpustakaan maupun dari teman. Ada juga yang aku beli dari toko buku. Jika ada diskon di toko buku aku tidak segan-segan untuk memborong. Jadilah kamarku menjadi perpustakaan mini.


Akhirnya aku menemukan apa yang selama ini aku cari. Aku telah menemukan bakatku. Bakatku berada di bidang bahasa. Hobiku adalah membaca. Kegemaranku adalah menulis. 

Salam Literasi Indonesia !!!

Senin, 02 Februari 2015

Balada DI Kampus BUDAI

Semarang
Di kota ini aku berjuang
Rela seminggu tak pulang
Demi masa depan yang gemilang
Walau segala cobaan menghadang
Aku tak apa asal orang tuaku senang

Sebut saja palang
Jika ingin datang
Akan ku buka pintu yang menghalang
Asal kau tak punya niat untuk berhutang
Apalagi untuk meminta sumbangan
Karena aku tak banyak uang

Unissula kampus budai
Di tempat ini ilmu bahasa aku pelajari
Phonology dan morphology
Walau susah dipahami
Namun aku yakin aku pasti menguasai
Asal niat dulu dalam hati

Masjid ABA atau Pumanisa
Selalu bingung pilih yang mana
Waktu sholat telah tiba
Namun sepertinya makan dulu juga tak apa
Oh aku tergoda
Oleh nikmatnya dunia

Inilah aku
Seorang mahasiswa lugu
Yang suka membaca buku
Bersikap agak kaku
Tak suka orang belagu
Apalagi yang sok laku


Tegar

Teman
Yang bersikap dengan penuh kelembutan
Namun sayang hanya di depan

Sahabat
Yang sering memberikan obat
Disaat hati sedang sekarat
Namun sayang dia hanya sesaat

Kekasih
Yang datang membawa cinta putih
Disaat jiwa sedang sepih
Namun sayang dia mengharapkan pamrih

Ibu
Yang hadir selalu
Dikala hujan membasahi kalbu
Tak pernah malu
Walau memiliki anak cupu
Seperti aku

Ayah
Yang tak pernah mengeluh
Walau tubuh berlumuran peluh
Mencari nafkah
Tak lupa bersedekah
Mendermakan sebagian upah
Agar penghasilan barokah

Tuhan
Sang pencipta keindahan
Menjadi sandaran
Ketika dunia banyak godaan
Harta, kemewahan dan segala kenikmatan
Membuat manusia tak tahan

Hidup tak pernah lepas dari masalah
Jangan disikapi dengan salah
Hanya kematian yang bisa menghentikan
Manusia dari problematika kehidupan
Masalah tak untuk diumbar
Jadi tetaplah TEGAR

Di Puncak Gunung Prau Aku Bersaksi

original photo by Isna Pertiwi


Di puncak Gunung Prau
Aku memandang indah pesona negeriku
Yang hijau dan subur
Membuat hati merasa terhibur

Di puncak gunung yang asri
Aku baru menyadari
Betapa indahnya bumi pertiwi
Tak heran menjadi rebutan banyak negeri

Lihatlah ke arah timur
Sindoro dan Sumbing berdiri akur
Mereka sedang berjemur
Aku kira sedang tidur

Lihatlah ke segala arah
Padang rumput terhampar indah
Membuat hati tak jadi gundah
Karena semua masalah tercurah

Semua ini asli bukan buatan
Dijamin murni bukan karangan
Jika ada yang meragukan
Silahkan datang

Di ketinggian 2565 ini
Hidup yang kujalani menjadi lebih berarti
Satu frasa untuk mengakhiri
Aku Cinta NKRI

Si Cantik dan Nenek Tua

Di sebuah desa kecil yang jauh dari kota hiduplah seorang gadis cantik. Ia tinggal bersama Sang Nenek yang sudah tua renta di dalam sebuah rumah gubuk sederhana. Setiap hari Sang Nenek bekerja di sawah dan kebun. Si cantik sering marah karena Sang Nenek tidak memiliki cukup uang untuk memehuni semua permintaannya.

Pada suatu hari Sang Nenek jatuh sakit karena kelelahan bekerja. Si cantik meminta Sang Nenek untuk membelikannya baju baru karena besuk adalah hari ulang tahunnya.

“Nek, aku mau baju baru untuk hadiah ulang tahunku besuk” pinta Si cantik.

“Nenek tidak punya uang Nduk. Uang Nenek sudah habis untuk membeli obat” kata Sang Nenek.

“Aku mau baju baru !!!”. Si cantik pergi meninggalkan Sang Nenek karena marah permintaannya tidak dituruti.

Sebagai permintaan maaf karena sudah mengecewakan Si cantik Sang Nenek memberikan satu-satunya harta berharga yang masih tersisa dirumahnya, yaitu selembar kain batik yang kusam.

“Nduk ini nenek berikan harta nenek satu-satunya kepadamu”.

“Kain batik kusam ini untuk apa Nenek berikan padaku. Aku tidak mau memakainya”.

“Ini barang yang sangat berharga. Kelak kamu akan menyesal telah menolak kain ini”. Sang Nenek berkata sambil meneteskan air mata. Sang Nenek sangat sedih mendengar kata-kata kasar cucunya.

Karena sakit yang tak sembuh-sembuh Sang Nenek akhirnya meninggal.

Semenjak neneknya meninggal Si cantik kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Terkadang para tetangga memberinya makanan dan pakaian. Namun, lama kelamaan para tetangga enggan untuk memberi lagi karena kesombongannya.

Hidup dengan kesusahan dan kemiskinan membuat ia termenung. “ Aku sudah tidak kuat hidup seperti ini. Aku harus mencari cara” katanya. Tiba-tiba ia berpikir tentang kain batik pemberian Sang Nenek. Ia ingin menjualnya. Namun, kain itu telah terkubur bersama Sang Nenek. Dan mungkin kain itu sekarang sudah hancur melebur menjadi tanah. Ia tak mungkin mendapatkannya.

Suatu hari ia pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Di alun-alun kota terdapat orang-orang yang sedang berkumpul. Ia penasaran ada apa sebenarnya. Seorang prajurit kerajaan sedang mengumumkan tentang barang kerajaan yang hilang. Barang tersebut adalah kain batik peninggalan raja pertama. Melihat gambar batik yang hilang ,ia menyadari bahwa kain batik tersebut adalah kain batik milik Sang Nenek. Kerajaan akan menghadiahkan sejumlah uang dan emas bagi siapa yang dapat menemukan.

Si cantik menyesal mengapa ia tidak mempercayai Sang Nenek. Bila saja ia mau menerima kain batik itu hidupnya pasti tak seperti ini. Ia sangat sedih dan berdosa kepada Sang Nenek. Semenjak hari itu Si cantik yang sombong dan pemalas berubah menjadi Si cantik yang rajin bekerja dan selalu menghormati orang tua.

Rob Pertama di Bulan -ber

“Naaaaa bangun! Rob” seru temanku.

“ehh apa rob” kataku sambil mengucek-ngucek mata.” Huaaaaaaaaaaa novelku, hpku, kasurku” Aku berteriak sekencang-kencangnya setelah menyadari air rob menggenangi kamarku.

Aku membuka pintu kamarku. Ku dapati temanku Atun sedang menggaruk-garuk kepala seperti masih tidak percaya atas musibah rob pagi ini. Aku menyingkap kain korden yang masih menutupi jendela. Air rob setinggi lebih dari semata kaki menggenangi jalanan depan rumah kontrakan kami.

“Aduhhhh gimana nih novelku sama hpku huhuhu” Aku hampir saja menangis.

 Kemarin sore aku pergi ke toko buku Gramedia untuk membeli novel yang selama ini aku idam-idamkan, novel Rantau 1 Muara karya Ahmad Fuadi. Sekarang aku mendapati novelku basah seperti pakaian yang habis dicuci.

Hpku yang baru aku beli 7 bulan yang lalu juga tak luput  menjadi korban. Bayangkan selama berjam-jam hp ini terendam air rob. Aku buka flipcase yang melindunginya. Panas sekali dibagian belakang. Aku buka casing bagian belakang. Susah sekali. Kuku ibu jari kananku sampai patah. Kulit dan kuku ibu jari kiriku terlepas sedikit. Hp bermerk ini memang terkenal susah dibuka. Hampir saja aku pasrah. Namun berkat usaha akhirnya bisa dibuka.

Celana jeans, tas, buku kuliah, tempat pensil, charger hp, dan headset juga ikut terendam. Ini adalah akibat kebiasaan burukku. Sebelum tidur aku selalu membiarkan kamarku berkondisi berantakan. Barang-barang aku biarkan berserakan di lantai.

Air rob sering kali mengenangi kawasan Kaligawe, tempat kami tinggal, di saat musim hujan. Memasuki bulan yang berakhiran –ber (oktober, november, desember) biasanya awal musim hujan bermula. Air rob adalah air selokan yang meluap hingga menggenangi jalan dan rumah-rumah penduduk. Biasanya datang pada tengah malam saat orang-orang sedang enak beristirahat. Sehingga tidak disadari saat bangun tidur tau-tau rumah dan jalan sudah terendam air.

Aku dan ketiga temanku lainnya termasuk Atun sebenarnya sudah bersiap-siap akan datangnya musibah ini. Namun, pagi ini memang jatah aku dan Atun mengalami sial. Kedua temanku yang lain sedang pulang kampung sehingga hanya ada kami berdua di sini. Hp milik atun juga ikut terendam. Akibatnya lcdnya rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Untungnya temanku ini memang tabah. Ia sudah mengikhlaskan hpnya.

Sekitar jam setengah 7 air rob sudah surut. Kami berdua membersihkan rumah. Pertama, sisa air yang masih menggenang dikeluarkan dengan menggunakan serokan (entah apa itu namanya). Kedua, lantai disiram dengan air detergen lalu disikat sampai bersih. Ketiga, air detergen dikeluarkan dan lantai dibilas dengan air bersih. Kelima, lantai dipel dengan air biasa. Kenam, lantai dipel dengan air plus pewangi lantai anti kuman. Untuk mempercepat keringnya lantai, dibantu dengan 3 kipas angin.

Barang- barang yang basah aku jemur di luar. Aku dan Atun berbaring merebahkan badan. Lelah , lapar , lega , sedih ,dan mengantuk yang kami rasakan. Setelah musibah ini aku tidak lagi meninggalkan barang-barang berserakan di lantai. Sebelum tidur aku meletakkan semua barangku di lemari atau tempat yang sekiranya tidak terjangkau oleh air rob. Setiap malam kami berjaga-jaga siapa tau air rob datang lagi. Cukuplah hari ini cukuplah kerugian ini.

MOVIE REVIEW: Pyarr Impossible


Pyaar Impossible adalah film bollywood yang berkisah tentang seorang pria lugu yang mencintai seorang gadis selama tujuh tahun. Kata “Pyaar” berasal dari bahasa India yang artinya cinta dan “Impossible” berasal dari bahasa Inggris yang artinya tidak mungkin. Jadi maksud dari judul film ini adalah cinta itu tidak mungkin ada karena apa adanya. Seseorang jatuh cinta karena ada hal tertentu seperti ketampanan, kepintaran, kemapanan, dll.

Abhay Sharma adalah seorang mahasiswa yang sangat cerdas. Karena kecerdasanya dia berhasil menciptakan sebuah software computer yang merupakan gabungan dari semua sistem operasi di seluruh dunia. Ia beri nama penemuan tersebut “UNITY”.

Ia telah lama mencintai seorang gadis. Gadis itu merupakan gadis terpopuler di kampusnya. Ia berkaca siapa dirinya. Ia hanya seorang mahasiswa culun dan tak tampan. Ia malu dan minder. Maka dari itu ia memilih untuk memendam perasaannya. Tak terasa sudah 7 tahun rasa itu tersimpan.

Pada suatu hari software yang ia ciptakan di curi oleh seorang businessman. Dari sinilah petualangan Abhay dimulai. Hal ini membawanya ke Singapura. Secara tidak sengaja ia bertemu dengan Alisha, sang gadis pujaan, yang ternyata sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan.
Bagaimanakah akhir dari petualangan Abhay? Apakah ia berhasil mendapatkan softwarenya kembali ? Dan bagaimana dengan kelanjutan kisah cintanya ?

Happy Watching !!!
movie review

Sabtu, 30 Agustus 2014

Wisata Asyik Para Penulis: Buku Pertamaku

Bangga, ya pastinya. Senang, ya pastinya. Buku “Wisata Asyik Para Penulis” yang ku tunggu-tunggu akhirnya terbit juga. Ini adalah buku pertamaku yang digarap keroyokan bersama muda-mudi di Pulau Jawa dan Sumatera.

Di awal tahun 2014 aku mengikuti lomba menulis cerpen yang di adakan oleh Forum Aktif Menulis Jabodetabek. FAM, begitu singkatannya, merupakan organisasi kepenulisan yang berpusat di Kota Kediri Jawa Timur. Organisasi ini memiliki beberapa cabang yang berada di kota-kota besar Indonesia, salah satunya ada di Jabodetabek.

Senang dan tak menyangka saat buku ini tiba di rumahku. Di cover belakang buku ini tertulis namaku sebagai salah satu contributor buku ini. Lalu aku membukanya langsung tertuju pada halaman daftar isi. Halaman 107, di situlah karyaku dimuat. Dengan mengabaikan halaman-halaman sebelumnya, aku menuju halaman 107. Aku tersenyum saat melihat foto dan namaku terpampang halaman tersebut.

Tak sia-sia penantianku selama berbulan-bulan. Bahkan aku telah berfikir negatif bahwa buku ini tak akan sampai ke tanganku. Namun sekarang buku ini benar-benar ada di sini, di hadapanku.

Buku “Wisata Asyik Para Penulis” merupakan buku yang berisi tentang kumpulan kisah inspiratif saat mengunjungi lokasi wisata di Indonesia. Buku ini berisi 30 cerita dan berhalaman 221. Karena ditulis ole penulis pemula maka bahasa yang digunakan pun mudah dimengerti dan tidak membosankan. Buku ini cocok dijadikan bahan referensi lokasi wisata untuk berlibur di akhir pekan.

Happy reading !!

Minggu, 10 Agustus 2014

Teman aku peduli padamu karena Allah

Kau baik dan ramah kepada setiap orang. Tak heran orang2 menyukaimu di awal jumpa. Namun mereka hanya mengenalmu seadanya saja karena mereka tak sering bersamamu. Aku pun begitu aku menyukaimu sejak awal bertemu dan aku hanya mengenalmu seadanya saja.

Seiring waktu berlalu kita bersama. Kau mulai tak menghargai kepedulian, bantuan dan kebaikan2 yang aku berikan. Aku memberimu bunga tapi kau malah membalasku

Bunga tapi kau malah membalasku dengan duri'y. Sakit sekali. Sedih mendalam yg aku rasakan. Aku sempat berfikir, sebaiknya aku berhenti memberimu bunga. Aku takut kau lempar duri'y lagi.

Aku tak tau harus bercerita pada siapa. Aku bingung harus mencari pemahaman pada siapa. Karena semua orang2 terdekatku menyukaimu. Mereka tak kan percaya bila ku cerita ini. Yang mereka tau kau baik dan menyenangkan.

Apakah aku boleh berhenti memberikan kepedulian padamu?
Itulah petanyaan besarku. Aku sadar aku tak boleh begitu.

Temanku sayang aku menyukaimu karena Allah. Aku tak mengharapkan balasan kebaikan darimu atas kebaikan yang aku berikan. Walaupun kau tak menghargai, walaupun kau beriku duri. Namun aku percaya bahwa Allah Maha Melihat. Aku hanya mengharapkan balasan kebaikan darinya. Terlalu berharap pada manusia yang ku dapat hanyalah rasa kecewa.

Teman aku menyukaimu karena Allah. Aku peduli padamu karena ingin dipedulikan Allah bukan ingin dianggap baik oleh orang2 disekitarku.





Selasa, 05 Agustus 2014

Resolusi Untuk Semester Baru

Tak terasa waktu begitu cepat belalu. Sekarang aku sudah semester 5. Biasanya setiap awal semester aku selalu merencanakan berbagai hal dan keinginan yang ingin aku dapat di semester baru. Namun untuk semester ini entah mengapa semangatku mengendur. Aku tak ada keinginan untuk membuat resolusi-resolusi hebat seperti sebelumnya.

Soal hubungan asmara ... emmm biarlah mengalir apa adanya. Pasti suatu saat akan datang sendiri.
Semester ini aku ingin lebih serius dan tekun belajar materi kuliah. Lulus kuliah sesuai target pasti akan membanggakan orang tuaku. Bagaimana ya rasanya bagai jubah akademik dan toga. Apalagi lulus dengan predikat cumlaude dan mahasiswa terbaik.

Semester 2 IP.ku sempat menurun drastis dari 3,5 menjadi 3,08. Semester ini harus ada peningkatan yang signifikan agar bisa menutup kekuranganku di semester 2.

Malu juga sih sebernarnya melihat adek-adek semester bawah yang udah bisa ngomong inggris lancar. Gag hanya itu soal public speaking banyak juga yang jago. Aku sering dibuat terkagum-kagum oleh mereka.
Iseng beberapa hari yang lalu aku membuka blog temanku. Lalu aku melihat ada banner Indiva Reading Challege. Rupanya temanku yang hobi membaca ini sedang mengikuti kontes mereview buku. Hadiahnya lumayan lho ada smartfone, netbook, dan uang tunai. Sayangnya deadline pendaftarannya sudah lewat. Tahun depan aku ingin ikut. Dan mulai semester ini aku akan menyicil mereview setiap buku yang pernah ku baca. Lumayan kan kalo menang. Kalo gag menang juga gpp. Paling gag udah bisa ngeksis di blog sendiri.

Tempat kos baru. Oh ya tempat kos baru. Pertengahan Agustus nanti aku dan ketiga temanku akan menempati tempat kos baru. Kami mengontrak sebuah rumah sederhana di daerah kaligawe. Yang aku khawatirkan adalah jika musim hujan. Setiap tahun daerah ini terkena banjir atau lebih dikenal dengan rob. Sebagian jalan di daerah ini sudah ditinggikan dan sebagian saluran pembuangan air sudah dibuat agag dalam. Namun jalan yang persis di depan kosku sama sekali belum ada perubahan  sejak aku tiba di semarang 2 tahun yang lalu. Aku takut dengan peninggian jalan2 lain, air banjir akan menggenangi tempat kosku lebih tinggi. Semoga saja tidak. Semoga perkiraanku salah.


Ya hanya itu saja harapan-harapanku di semster 5. Tak ada keinginan yang muluk-muluk seperti pergi keluar negeri, pertukaran pelajar atau mengikuti konferensi pemuda. 

The Secrets of Pawang Manusia (seni bagaimana berinteraksi dan menghadapi segala tingkah polah manusia dengan tetap menikmati hidup)



Judul                     :The Secrets of Pawang Manusia
Penulis                  :Endra K. Prihadhi
Penerbit                :PT Elex Media Komputido
Tahun                   :2010
Tebal                    :156 halaman

cover buku The Secrets of Pawang Manusia


Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna. Selalu berbuat kesalahan merupakan hal yang wajar dilakukan manusia. Tidak menghargai kepedulian orang lain, terlalu ingin bersikap sempurna, mudah tersinggung dan selalu berburuk sangka tanpa kita sadari hal-hal itu kita lakukan dan dapat menyakiti perasaan orang lain. Di dalam buku ini kita belajar tentang memahami karakter orang lain,  prinsip-prinsip begaul, dan seni bersikap.

Buku ini berisi tentang seni berinteraksi dengan manusia. Di bab pertama buku ini kita akan diajarkan bagaimana memahami karakter orang lain. Ada manusia dengan tipe sanguinis yang suka sekali berbicara, melankolis sang perfeksionis, koleris yang suka mendominasi, dan tipe plegmatis yang cinta damai. Dengan mengetahuinya kita akan mengerti bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan masing-masing tipe.

Di bagian kedua buku ini berisi tentang prinsip-prinsip dasar bergaul. Menyadari bahwa kita hanya manusia biasa yang penuh kekurangan. Memahami bahwa setiap orang memiliki karakter yang berbeda. Menyadari bahwa kita tidak bisa memaksakan standar diri kita kepada orang lain.  Bab ini lebih bersifat mencerahkan.
Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami. Topic dibahas secara ringkas, padat dan tidak terlalu mendetail. Jumlah halamannya juga tidak terlalu banyak. Sehingga buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin belajar tentang seni bergaul dengan orang lain.


Happy reading !!

Gunung Prau: Edisi Petualangan di Dataran Tinggi Dieng

Sebelumnya aku tidak pernah tau tentang keberadaan gunung ini. Aku tak pernah mendengar orang membicarakan ini. Malah aku mengira gunung ini adalah Gunung Tangkuban Perahu yang ada di Jawa Barat. Ternyata  memang beda, yang ini ada di Jawa Tengah.

Gunung Prau terletak di 4 wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Bajarnegara, Wonosobo, Batang, dan Kendal. Memiliki ketinggian 2565 mdpl gunung ini memang tergolong pendek. Terdapat 2 jalur pendakian yaitu jalur Desa Kenjuran, Kecamatan Sukoreja dan jalur Desa Patang Banteng di Dataran Tinggi Dieng. Kali ini kami memilih untuk mendaki lewat jalur Desa Patang Banteng.

Beberapa hari sebelum hari pendakian, aku mencari-cari info tentang Gunung Prau di internet. Tentang keunikannya, jalur pendakian, cerita-cerita dari yang sudah pernah mendaki, dan juga gambar-gambar keindahannya. Cerita tentang bukit teletubies yang terletak di puncaknya membuatku penasaran. Apa bener film Teletubies syutingnya di sini? Bukannya itu di luar negeri ya?

Aku pergi mendaki bersama teman-teman sekelas. Kami sebut diri kami “E2 Rock n Roll” alias Education 2 Rock n Roll. Kami semua adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Unissula Semarang. Sebenarnya ini petualangan kedua kami di Dataran Tinggi Dieng. Namun, pendakian sebelumnya di Gunung Sikunir aku tidak ikut.

Petualangan bermula di Desa Patang Banteng. Basecamp di sini terletak di belakang sekolah TK. Awalnya sempat bingung mencarinya. Aku kira malah nyasar atau salah tempat. Namun, berkat petunjuk sebuah tanda panah merah di tembok akhirnya kami tiba di basecamp.
Peta jalur pendakian via Desa Patang Banteng


Di sekitar basecamp terdapat banyak sekali penjual Carica. Itu lho manisan pepaya khas Dieng. Dengan selembar uang 5000 atau 10 koin 500an kita sudah bisa mendapat 1 mangkuk Carica khas Dieng.

Awal-awal mendaki, kiri kanan jalan terdapat lahan pertanian milik penduduk. Macam – macam sayuran yang ditanam ada tomat, kubis, sawi putih, kentang, dll. Aku kagum sekali melihat hamparan berhektar-hektar kebun sayuran di sini yang sebelumnya hanya ku lihat lewat tv atau internet saja.  Inilah salah satu dari ratusan keindahan di Dataran Tinggi Dieng.

Setelah cukup jauh berjalan melewati kebun-kebun sayuran, tibalah kami di daerah yang banyak pepohonan. Pohon-pohon disini kecil-kecil hanya beberapa saja yang besar. Jalurnya licin dan terjal. Tak jarang kami harus merangkak dan terpeleset saat berjalan. Di tambah jarak antar pohon yang cukup jauh, menyulitkan kami untuk mencari pegangan agar tidak jatuh terpleset. Terpaksa kami harus berpegangan pada batu atau gundukan tanah. Alhasil tangan menjadi blepotan tanah dan kuku2 menghitam.

Ada kejadian yang entah aku harus bersedih atau tertawa. Sampai sekarang pun aku masih sulit untuk mempercayainya. Ini bisa juga disebut sebagai tragedi. Ya tragedi Bani minum spirtus.

Seorang mahasiswa kampus swasta di Semarang berinisial B telah meminum spirtus saat mendaki Gunung Prau. Diduga pelaku mengira air yang diminumnya adalah air mineral biasa. Setelah menyadari bahwa air tersebut terasa panas di mulut, pelaku langsung menghentikan aksinya. Terdakwa berinisial P mengaku tidak sengaja mengambil botol air mineral yang salah kepada pelaku. Untungnya tidak terjadi apa2 pada B. Hanya terasa pusing saja ujarnya. Sekian berita terkini yang saya laporkan langsung dari Gunung Prau. Saya Isna Pertiwi selamat sore.

Mungkin begitu kiranya jika ada wartawan yang tak sengaja lewat di situ. Untung saja Bani tetep sehat bisa jalan. Pras yang tidak sengaja melakukannya langsung jadi bahan bulyan teman-teman. Hahahaha. Lain kali botolnya harus ditulis pake spidol permanen biar gag ketuker.

Kami mulai mendaki sekitar pukul setengah empat. Jam setengah 6,  tanda2 puncak sudah dekat belum juga terlihat. Batu2 besar dan tak adanya pepohonan biasanya menandakan bahwa puncak tak jauh lagi. Padahal hari sudah mulai gelap dan adzan maghrib sebentar lagi akan berkumandang.
sore di Gunung Prau


Hari sudah benar-benar gelap. Matahari sudah kembali keperaduannya diganti dengan jutaan bintang-bintang. Meski banyak namun cahayanya tak mampu menyinari perjalanan kami.

“Senter mana senter”. Sekarang senter yang menjadi penerangan andalan. Karena tidak semuanya membawa senter, aku meminjamkan senterku ke teman yang jalan paling depan. Alhasil aku banyak kesandung dan utung saja tidak sampai jatuh.

Jam 7 kami tiba di puncak. Temanku yang jalan paling depan berteriak kegirangan ketika melihat tenda-tenda yang berdiri.”Hayyyy puncak-puncak cepet cepet sini. Liat tu ada tenda-tenda”... Semua senang. Akhirnya setelah perjalanan selama 3 setengah jam kami tiba di tujuan.


3 tenda kami dirikan. 2 tenda cewek dan 1 tenda besar untuk cowok. Makan malam kami kali ini cukup dengan mie instan dan energen. Semua kenyang, semua senang.

Brrrrrrr.....malam itu adalah malam paling dingin seumur hidupku. Kaos panjang, jaket 2 lapis, kaos kaki, celana training panjang, rok panjang, kaos kaki, kerudung panjang, dan selimut, semua aku kenakan masih saja terasa sangat dingin. Hanya sesekali angin menggoyangkan tenda tapi terasa sangat dingin. Hanya ada 1 kata untuk mendeskripsikan malam itu yaitu DINGINNNNNNNNN. Aku ingin pagi cepat datang.

Pemandangan matahari terbit menjadi buruan kami pagi itu. Namun sayangnya kabut tebal tak mau mengalah pada kami. Hanya sesekali saja kabut pergi. Pada saat kabut menipis, aku tak sia-siakan kesempatan ini untuk berfoto berlatar pemandangan gunung Sindoro dan Sumbing serta langit yang berwarna orange.

Aku takjub pada tempat ini. Bukit teletubies yang menjadi bayanganku sedari kemarin, sekarang aku berdiri diantaranya. Tempat nyata dan seindah yang aku lihat di internet. Bunga-bunga kecil menyelimuti dan menambah keindahannya. Dan tentu saja film teletubies tidak mengambil latar di sini hahaha itu cuma khayalanku saja. Pantas saja jika gunung ini mendapat julukan Gunung seribu bukit.                              

                                
Aku tidak menyesal pergi ke tempat ini. Walaupun jalannya licin dan terjal serta sehingga aku sering terjatuh. Perjalanan ini mengajariku banyak hal tentang mensyukuri nikmat, mengagumi keagungan ciptaan Allah, dan mengetahui kekayaan dan keindahan alam Indonesia. Jujur setelah perjalanan ini aku semakin yakin untuk tetap tinggal di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu aku sempat berniat untuk pergi belajar ke luar negeri. Namun, setelah semakin dalam mengenal Indonesia, aku semakin niat itu aku ikhlaskan.


Bersambung ke petualangan selanjutnya...

subuh di puncak Gunung Prau

ini kami rakyat E2

pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing di Gunung Prau

bukit teletubies

hamparan bunga-bunga di bukit teletubies

99 Hari di Prancis (menguak kebenaran Asmaul Husna)


Judul               : 99 Hari di Prancis
Penulis             :Wiwid Prasetiyo
Penerbit           :Sabil
Tahun              : 2012
Tebal               : 482

cover novel 99 Hari di Prancis


Pertama kali melihat novel ini di sebuah pameran buku, aku sama sekali tidak tertarik. Itu karena aku berfikir bahwa novel ini hanya aji mumpung dengan memanfaatkan ketenaran novel lain yang berjudul” 99 Cahaya di Langit Eropa”. Pada saat itu novel “99 Cahaya di Langit Eropa” sedang booming dibicarakan dimana-mana, tak terkecuali di kampusku. “99 Hari di Prancis” dan “99 Cahaya di Langit Eropa” memang memiliki judul yang hampir sama. Kemiripin judul ini membuat ku memandang” 99 Hari di Prancis” dengan sebelah mata.

Don’t judge a book by its cover. Pepatah ini memang benar. Aku telah salah menilai novel ini. Novel ini bukan novel aji mumpung. Novel ini bukanlah novel picisan.

Inilah sebuah novel yang menggugah jiwa tentang perjuangan heroik seorang gadis yang memperbaiki nasibnya di negeri Prancis. Setiap ujian dan peristiwa yang ia alami telah membuka mata hatinya tentang hikmah 99 sifat Allah (Asmaul Husna).

“99 Hari di Prancis” berkisah tentang perjuangan hidup seorang gadis lugu Indonesia bernama Maria di Prancis. Pertama kali tiba di Prancis dia bekerja pada seorang bandar narkoba bernama Salomon sebagai kurir.  Maria tidak pernah tau apa isi box yg ia antar. Lama-kelamaan Maria curiga karena salah satu penerima barang tersebut akhirnya meninggal ditembak oleh orang misterius. Selama di Prancis ia tinggal di sebuah flat pelacuran milik Salomon. Walaupun tinggal disitu, tapi Maria tidak pernah melakukan pekerjaan hina tersebut. Sejak pertama kali tiba di Prancis, ia selalu ditemani oleh seorang lelaki asisten Salomon bernama Robert. Hari demi hari bersama cinta pun tumbuh.

Berkat informasi dari seorang wartawan muslim, Maria akhirnya mengerti bahwa box yang selama ini ia antar berisi narkoba. Ia tak ingin lagi bekerja seperti ini. Walaupun pekerjaannya mudah dan bergaji besar. Ia merasa berdosa.

Dengan seorang teman bernama Maizumi, Maria memutuskan untuk kabur dari flat. Dan petualangan Maria di negeri Prancis pun dimulai. Menjadi gelandangan, tukang cuci piring, menjuarai kontes memasak,menjadi  koki restoran, difitnah mencuri, kehilangan pekerjaan, bekerja di panti asuhan, menjadi kader partai, masuk penjara, dan beragam petualangan Maria yang lain.

Yang saya sukai dalam novel ini adalah setiap kejadian yang dialami oleh sang tokoh selalu terdapat moral value yang dijelaskan secara eksplisit sehingga pembaca mudah memahaminya. Setiap peristiwa yang alami tokoh utama mengungkapkan makna dari 99 Asmaul Husna. Konflik yang kuat dan alur cerita yang menegangkan juga merupakan ciri khas novel ini. Tokoh- tokoh yang berperan pun tidak terlalu banyak sehingga tidak terlalu memusingkan.


Selamat Membaca !

Sabtu, 02 Agustus 2014

Family Time

Hari ini aku tidak berencana untuk pergi kemana pun. Menghabiskan waktu dengan menonton tv, mengecheck status teman2 di sosmed, dan menulis lebih aku sukai daripada pergi keluar rumah. Alasanya simple, aku malas mandi dan dandan. Ya inilah aku.

“mau ikut gag ke salatiga?” tanya ibuku

“ngapain ?” sambil memencet tombol
chanel di remote tv

“nganter ibuk ngambil obat”

“gag mau” dengan nada malas

“Rizalllllllllllll cepet mandi ikut bude jalan-jalan ke Salatiga” teriak ibukku di teras rumah memanggil adik sepupuku yang berusia 7 tahun.

“tungguuu aku mau mandi dulu ya bude” sahut adikku

“rizal ikut buk?”

“iya. Sono cepet mandi. Biasanya kamu lama mandi sama dandannya”

Aku berubah pikiran. Aku pikir jalan-jalan berdua dengan ibukku saja akan membosankan. Kalau Rizal adikku ikut pasti akan seru.

Aku bergegas menyiapkan baju yang akan ku pakai: kaos garis-garis warna kuning abu2, rok jeans biru muda, jilbab pasmina motif wajik warna-warni. Sebernarnya gag maching sih antara jibab sama kaosku. Tapi tak apalah aku lagi seneng pake jilbab ini. Masih baru gitu lohhhh hehe.

Setelah mandi bersih, saatnya dandan cantik. Pembersih, penyegar, pelembab, bedak padat sudah teroles mulus di wajahku. Jilbab pasmina motif wajik ku pakai dengan model sederhana diputar dari ujung ke ujung. Cukup dengan 2 peniti saja. Sandal croc bahan plastik warna active green memang tidak matching dengan busanaku tapi berhubung itu adalah sandalku satu-satunya dirumah jadi kemana pun aku pergi sandal itu selalu ku pakai.

Rizal sudah siap sedari tadi. Sambil menunggu semua siap dia menonton acara tv kesayangannya: upin dan ipin. Dengan kaos putih panjang dan celana jeans army warna hijau dia kelihatan tampan sekali.

Ternyata Naswa, adik sepupuku dan adik kandung Rizal, juga ingin ikut. Dia iri kakaknya akan pergi jalan2 dan tidak menemaninya bermain di rumah untuk hari ini. Aku senang dia ikut. Walaupun aku tau pasti akan repot mengurus 2 anak sekaligus.

Seperti biasa aku selalu menjahilinya. Sambil menunggu ibuk selesai berdandan dan mobil dipanaskan aku menggodanya di teras rumah.

“Haiyoooo nanti Naswa ditinggal. Gag jadi di ajak jalan2” aku pegang kedua tangannya dan aku ayunkan kanan kiri sambil duduk di kursi teras.

“Halahhhhhh ikutttt” dengan nada bicara naik turun khas anak kecil.

“Ngak boleh ikut. Naswa gendut nanti mobilnya gag cukup”

“Halahhhhhh ikutttt” tangan kanannya mencubit pahaku.

“Ngak boleh ikut. Naswa gendut. Naswa gendut”

Kali ini dia tak menjawab. Hanya saja wajahnya menunduk dan kedua tangannya memukul2 pahaku. Kemudian dia menangis keras sekali hingga ibunya mendengar. Seperti biasa akhirnya aku kena omelan.

Semua sudah siap berangkat. Naswa hampir saja tidak jadi ikut karena aku hahaha. Aku memang kakak sepupu yang jahil.

Selama perjalanan aku menghibur Naswa dengan menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu anak2 yang aku gubah liriknya.

Pada hari Jum’at ku turut budhe ke kota
Naik mobil istimewa ku duduk di tengah
Di blakang pak sopir yang sedang bekerja
Mengendarai mobil supaya baik jalannya

Ibu sudah lama sakit pencernaan. Sudah berbagai macam pengobatan dijalaninya. Mulai dari dokter spesialis, opname di rumah sakit, pijat sumpit, hingga ramuan obat cina. Dan yang terakhir ini beliau berobat ke seorang anak indigo dengan ramuan obat parutan jahe untuk dioles keseluruh badan sebelum tidur, ramuan jamu diminum setiap hari, dan air khusus. Aku tidak tau air itu air apa. Jika dilihat memang seperti air biasa, jernih dan tidak berbau.

Seperti yang ibu janjikan, setelah mengambil obat kami pergi jalan2 menikmati sisa2 hari libur lebaran di alun2 kota Salatiga atau biasa juga disebut lapangan Pancasila.

Lapangan Pancasila merupakan pusatdari Kota Salatiga. Di sebelah timur terdapat Kantor Pemkot Kota Salatiga dan Kantor DPRD Kota Salatiga. Di sebelah barat terdapat masjid besar dan kampus STAIN.Kantor samsat dan Polres di sebelah selatan dan utara lapangan. Di bagian timur lapangan ada 3 patung pahlawan nasional yang berasal dari Salatiga. Ketiganya adalah Brigjen Sudiarto, Laksamana Madya Yosaphat Soedarso, dan Marsekal Muda Agustinus.

Bila berkunjung ke Salatiga tak lengkap rasanya bila tak mampir ke tempat yang satu ini. Lapangan Pancasila tak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga malam hari. Setiap pagi tempat ini berfungsi sebagai jogging area. Di sana juga terdapat berbagai macam warung tenda yang menjual berbagai macam makanan. Ada bakso, mie ayam, gado-gado, nasi pecel, batagor, es buah, dll. Yang paling terkenal dan banyak diminati adalah batagor dan es buah. Di sana terdapat mobil atv, skuter teletubies, dan mobil-mobilan yang disewakan. Harganya cukup terjangkau. Dengan uang 10000 bisa menyewa mobil-mobilan untuk satu kali putaran dan mobil ini bisa diisi hingga 6 org. Untuk menyewa mobil atv cukup membayar 5000 saja untuk 2 kali putaran. Murah sekali bukan.

Rizal dan Naswa ingin naik mobil atv. Ku keluarkan lembar 5000an dari dompet. Mereka kelihatan tidak sabar ingin segera menaikinya. Setelah mengantri beberapa menit akhirnya tiba juga giliran mereka. Mobil atv warna hijau army siap dikendarai. Sebenarnya mobil ini bisa dinaiki 2 orang sekaligus. Namun untuk keamanan ibukku meminta Rizal menaikinya sendiri di putaran pertama lalu giliran Naswa untuk putaran kedua. Mereka terlihat bahagia sekali.

Kota Salatiga adalah kota yang indah. Umumnya kota identik dengan sampah, macet, dan panas. Namun Salatiga lain. Kota ini sejuk, tidak macet, tidak ada sampah, dan banyak akses transportasi umum. Di sisi-sisi jalan raya terdapat trotoar yang luas untuk pejalan kaki. Salatiga merupakan kota kecil yang damai.