Pages

Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Juni 2016

Merbabu Si Abu-Abu

Ada beberapa versi cerita asal muasal nama Merbabu. Ada yang bilang Merbabu berasal dari kata meru (gunung) dan babu (wanita) yang artinya gunung wanita. Versi lain mengatakan Merbabu berasal dari kata meru (gunung) dan abu (abu) yang artinya gunung yang berwarna abu-abu / gunung yang berselimut abu. Ini adalah pendapat yang banyak dipercaya oleh masyarakat. Memang jika dilihat dari kejauhan Gunung Merbabu tampak berwarna abu-abu.

            Gunung Merbabu merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif. Tercatat terakhir meletus pada tahun 1797. Merbabu berada di empat wilayah yaitu, barat Kabupaten Magelang, timur Kabupaten Boyolali, selatan Kota Salatiga, dan utara Kabupaten Semarang. Gunung ini berketinggian 3142 mdpl. Gunung ini bisa didaki lewat beberapa jalur yaitu, jalur Thekelan, Cunthel, Suwanting, Wekas, Selo, dll. Pada kali ini saya akan menceritakan tentang pengalaman saya mendaki Gunung Merbabu via Cunthel bersama teman-teman.

            Kami memulai perjalanan dari Kota Semarang. Dari sini menuju basecamp pendakian kami memilih untuk menggunakan transportasi umum. Kami menumpang mini bus jurusan Semarang-Salatiga bertarif Rp. 10000. Tiba di Kota Salatiga kami turun di Pasar Sapi. Lalu menumpang lagi angkot jurusan Salatiga-Kopeng bertarif Rp. 5000. Kemudian kami turun di Jalan Umbul Songo. Dari sini tidak ada angkutan umum yang mengantar kami menuju basecamp. Untung saja ada teman kami, penduduk asli, berbaik hati mengantar kami menuju basecamp.

            Basecamp yang kami tuju terletak di Dusun Cunthel Desa Kopeng Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang. Bangunan basecamp berada di kiri jalan tepat sebelum masuk area perkampungan. Di basecamp ini semua pendaki wajib mengisi data diri dan membayar karcis sebesar Rp. 15.000. Terdapat tempat parkir yang cukup luas di sini sehingga bagi pengunjung yang membawa mobil tidak perlu khawatir. Terdapat juga counter yang menyediakan aneka souvenir seperti gantungan kunci, stiker, dan kaos.
 
Basecamp Manggala Cunthel
             Kami bertujuh mulai mendaki pukul 10.30. Menurut petugas di basecamp, pendakian biasanya memakan waktu 8 jam dari basecamp sampai ke puncak dan bisa lebih untuk pendaki pemula. Terdapat 2 pos bayangan dan 3 pos utama yang harus dilewati. Biasanya para pendaki mendirikan tenda di pos 3, di Puncak Menara, atau di Puncak Syarif. Kami berharap agar bisa sampai di camping ground sebelum matahari tenggelam sebab berbahaya jika melakukan pendakian di malam hari dengan kapasitas kami sebagai pendaki pemula.

            Setiap pos ditandai dengan plang hijau berisi infomasi nama pos, ketinggian, dan jarak ke pos selanjutnya. Di pos bayangan 1 terdapat bangunan gazebo permanen kira-kira berukuran 3x3. Cocok dijadikan tempat berteduh jika sedang hujan. Di pos bayangan 2 tidak terdapat bangunan seperti sebelumnya. Namun, di sini ada sumber mata air. Biasanya para pendaki beristirahat di sini sambil mengisi air untuk bekal. Di pos 1 terdapat beberapa bongkahan batu besar. Oleh sebab itu, pos ini dinamakan Pos Watu Putut. Selanjutnya di pos 2, tanah di sini lumayan datar. Cukup untuk mendirikan 1 atau 2 tenda. Pos ini dinamakan Pos Kedokan. Di pos ini kami sudah berada di ketinggian 2430 mdpl. Pos terakhir adalah Pos Kergo Pasar. Tanah di pos ini datar dan sangat lapang. Para pendaki biasanya mulai mendirikan tenda di pos ini. Di pos ini juga Gunung Andong, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran bisa disaksikan keindahannya.
 
Pos 2 Kedokan

                        Perjalanan dari pos 3 ke Puncak Menara adalah perjalanan terberat dibanding dengan perjalanan menuju pos-pos sebelumnya. Trek menanjak hampir 30 %. Di sekitar trek pepohonan dan semak-semak sudah mulai jarang sehingga jika jatuh bisa berbahaya. Saking lelahnya kami lama kelamaan berjalan merangkak dan terpleset. Sesekali kami menengok ke belakang untuk melihat pemandangan Gunung Andong, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Beruntung sekali pada sore itu kabut sedang bersahabat sehingga kami dapat melihat pemandangan dengan jelas. Semburat kuning sinar matahari tenggelam menambah keindahan pemandangan sore itu. Perlahan tapi pasti matahari tenggelam ufuk barat. Begitu juga dengan perjalanan ini perlahan tapi pasti akan sampai pada tujuan.
Gunung Andong, Telomoyo, dan Ungaran


            Pukul 19.00 kami tiba di puncak yang terdapat menara pemancar di situ atau biasa disebut Puncak Menara. Di sini kami berada di ketinggian 2847 mdpl. Banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda di sini. Untuk lewat saja kami harus berhati-hati agar tidak tersandung tali tenda. Kami beruntung masih ada tempat untuk mendirikan satu tenda. Malam ini Merbabu sedang diserbu ratusan pendaki karena malam ini adalah malam terakhir di bulan Desember. Para pendaki berombongan ada juga yang sendiri ingin menikmati perayaan pergantian tahun di atas awan. Kelap-kelip lampu kota bagaikan bintang-bintang bertaburan di muka bumi. Itulah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan pemandangan di bawah. Sesekali kembang api menyala dari bawah. Terlihat sangat kecil sekali. Namun, suaranya terdengar sampai di sini.

            Semakin malam udara semakin dingin. Semakin malam angin berhembus semakin kencang menghantam tenda dari kanan dan kiri. Syukur Alhamdullilah tenda kami masih berdiri sampai pagi.

            Sebelum fajar para pendaki memulai perjalanan lagi menuju puncak tertinggi yaitu Puncak Kenteng Songo. Menurut salah satu pendaki, matahari terbit tidak akan terlihat jika kita berada di Puncak Menara sehingga harus melanjutkan perjalanan sebelum fajar.

            Pemandangan pagi di Puncak Menara sangat indah. Matahari tebit dari sebelah timur. Keindahannya tidak bisa kami nikmati seutuhnya karena terhalang puncak-puncak Merbabu. Hanya terlihat sinarnya saja dari sini. Gumpalan awan bagai kapas muncul secara bersamaan. Indah sekali. Dihiasi dengan warna kuning keemasan gumpalan awan tersebut seperti jalan menuju nirwana. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan kami langsung mengeluarkan kamera dan mengabadikan momen berharga ini.
Samudra Awan

            Saat hari benar-benar terang sekitar pukul 07.00 kami melanjutkan perjalanan. Trek berupa bebatuan. Kanan kiri jurang. Kadang menuruni bebatuan. Kadang menaiki bebatuan. Tiba di persimpangan jalan terdapat plang petunjuk arah. Plang tersebut menunjukkan bahwa jalan ke puncak lurus ke depan. Di persimpangan itu kami bertemu dengan salah seorang pendaki. Menurut penuturannya, jalan ke puncak bisa ambil jalur yang sebelah kiri. Jika lewat jalur ini tidak akan melewati Jembatan Setan yang menjadi momokku sejak awal. Kami menurut saja.

            Awalnya trek menurun berupa bebatuan. Setelah itu kami melewati area seperti kawah yang sudah mati. Bau belerang sangat menyengat. Lalu kami melewati sumber mata air. Di sini banyak pendaki yang sedang mengisi botol-botol minumannya. Kami berjalan lurus. Kemudian naik melewati trek berupa tanah. Dan akhirnya kami mencapai trek mendatar. Kami berjalan lurus ke arah kanan. Semakin maju hatiku semakin ragu bahwa jalan ini akan membawa kami menuju puncak Kenteng Songo. Pasalnya semakin maju jalan semakin sempit bahkan hanya cukup untuk dilewati satu telapak kaki. Kami juga tidak berpapasan dengan pendakian lain. Sepertinya jalan ini jarang dilintasi.

            Tiba-tiba dari arah barat kami mendengar suara orang berteriak menanyakan kami mau kemana. Kami menjawab kami ingin ke puncak Kenteng Songo. Orang tersebut meminta kami untuk berbalik arah karena jalan yang kami lewati salah. Sesampainya di persimpangan awal kami bertemu dengan pemilik suara tadi. Ternyata beliau adalah petugas yang bertanggung jawab mengawasi para pendaki di area puncak. Beliau berkata bahwa jalan yang kami lewati tadi adalah jalur pendakian ritual. Jalur tersebut merupakan jalur khusus untuk melakukan ritual di Gunung Merbabu. Jadi bukan kapasitas kami untuk melewati jalur tersebut. Jika diteruskan bukan puncak yang akan kami dapati tetapi kesasar dan bisa saja tidak bisa pulang.

            Dengan alasan keamanan para pendaki dilarang berada di puncak kenteng songo lebih dari jam 10. Maka dari itu kami memutuskan untuk kembali ke tenda saja. Jika kami memaksa untuk melanjutkan perjalanan tentu waktunya tidak akan cukup mengingat jarak yang masih jauh dan waktu yang terbatas. Pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini adalah ikutilah jalur resmi sesuai petunjuk dan jangan bersikap sembrono.

            Setibanya di tenda kami berkemas. Penjalanan turun lebih cepat daripada saat naik. Sesampainya di basecamp kami melapor kembali kepada petugas. Di sekitar basecamp ada beberapa penjual jajanan keliling seperti bakso kuah. Suasana dingin seperti ini memang cocok makan makanan yang hangat dan berkuah.


            Pendakian di Gunung Merbabu memberi kenangan indah dan pengalaman berharga. Walaupun belum mencapai puncak tertinggi hal itu tak mengurangi rasa syukur kami. Kami bersyukur bisa kembali ke rumah dengan selamat sehingga bisa melakukan perjalanan lagi menjelajah bumi nusantara yang indah. Terima kasih Tuhan yang telah memberi kami kesempatan menyaksikan dan mengagumi keindahan ciptaanmu.

Kamis, 18 Februari 2016

Awas Harimau

Cerita ini aku alami saat sedang melaksanakan program Kuliah Kerja Nyata di Dusun Thekelan, salah satu dusun di Gunung Merbabu. Jengkel dan konyol bila aku teringat kejadian ini. Begini ceritanya.

Bosan dan jenuh melanda hati dan pikiran. Ada banyak waktu luang dalam sehari. Sungguh sia-sia jika hanya dihabiskan untuk bersantai di posko. Lalu aku dan ketujuh temanku memutuskan untuk pergi ke air terjun yang ada di sebelah timur dusun ini. Cusssss let’s go. My Trip My Adventure.

Tempat ini sudah aku icar sejak hari pertama KKN. Rencana pergi selalu batal dengan berbagai alasan: sudah sore, hujan, habis hujan jalan licin, air terjun kering, dll.

Air terjun ini berada di kawasan hutan Gunung Merbabu. Namun tidak terlalu jauh dengan pemukiman warga. Kira-kira hanya berjarak 1 kilometer. Sepanjang perjalanan kami melewati jejeran hutan pinus. Indah sekali. Seperti pemandangan alam di film-film Bollywood. Cocok dijadikan spot berfoto. Kami pun tak melewatkan kesempatan ini.
Berfoto di hutan pinus Dusun Thekelan

Perjalanan menuju air terjun

“Ehh itu ada monyet” ujar salah satu temanku.

Aku merinding. Kurangkul tangan teman yang berjalan persis di depanku.

“Ada segerombolan. Warnanya putih”.

Aku semakin ketakutan. Sepanjang perjalanan kedua mataku melihat sekeliling untuk berjaga bila ada monyet yang tiba-tiba mendekat. Jika hanya satu ekor mungkin aku tak setakut ini. Namun ini segerombol monyet hutan yang liar. Mereka memekik menambah ketakutanku saja.

Kalau tidak salah dengar semalam Pak Kadus (Kepala Dusun) bercerita bahwa di kawasan hutan Gunung Merbabu masih terdapat satu ekor harimau. Keyakinanku bertambah ketika teman-temanku yang lain juga berpikiran seperti itu. Kewaspadaanku meningkat.

“Harimau. Awas ada harimau !!!!!” teriak salah satu temanku tiba-tiba yang berjalan memimpin di depan.

Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menyelamatkan diri. Aku lihat teman-temanku yang lain juga tidak kalah panik. Beberapa langkah berlari aku mendengar suara tawa terbahak-bahak. Aku berhenti dan menengok kebelakang. Ternyata ini hanya guyonan semata dan dengan mudah aku percaya hahahahha.
Tertawa bersama

Tidak hanya aku saja yang tertipu. Bahkan sampai ada yang menangis karena panik dan ketakutan. Untung aku hanya berlari saja. Tidak sampai nekat terjun ke jurang atau naik pohon pinus.

Lalu kami memutuskan untuk kembali ke posko saja. Gokil, jengkel, sebal, dan lucu rasanya. Aku ingin jambak rambut teman yang berteriak harimau tadi. Dia berhasil menjahili kami semua.

Pak Kadus sekeluarga tertawa terbahak-bahak mendengar cerita ini. Beliau mengkonfirmasi bahwa di kawasan hutan Gunung Merbabu sudah tidak ada harimau lagi.

“Harimau sudah tidak ada Mbk disini. Tapi kalau monyet banyak” ujar Pak Kadus.

“Iya Pak tadi ada segerombolan. Tuh nyasar satu sampai sini” ujar temanku sambil menunjuk.

Cerita ini berakhir dengan gelak tawa kami bersama Pak Kadus sekeluarga.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Wisata Asyik Para Penulis: Buku Pertamaku

Bangga, ya pastinya. Senang, ya pastinya. Buku “Wisata Asyik Para Penulis” yang ku tunggu-tunggu akhirnya terbit juga. Ini adalah buku pertamaku yang digarap keroyokan bersama muda-mudi di Pulau Jawa dan Sumatera.

Di awal tahun 2014 aku mengikuti lomba menulis cerpen yang di adakan oleh Forum Aktif Menulis Jabodetabek. FAM, begitu singkatannya, merupakan organisasi kepenulisan yang berpusat di Kota Kediri Jawa Timur. Organisasi ini memiliki beberapa cabang yang berada di kota-kota besar Indonesia, salah satunya ada di Jabodetabek.

Senang dan tak menyangka saat buku ini tiba di rumahku. Di cover belakang buku ini tertulis namaku sebagai salah satu contributor buku ini. Lalu aku membukanya langsung tertuju pada halaman daftar isi. Halaman 107, di situlah karyaku dimuat. Dengan mengabaikan halaman-halaman sebelumnya, aku menuju halaman 107. Aku tersenyum saat melihat foto dan namaku terpampang halaman tersebut.

Tak sia-sia penantianku selama berbulan-bulan. Bahkan aku telah berfikir negatif bahwa buku ini tak akan sampai ke tanganku. Namun sekarang buku ini benar-benar ada di sini, di hadapanku.

Buku “Wisata Asyik Para Penulis” merupakan buku yang berisi tentang kumpulan kisah inspiratif saat mengunjungi lokasi wisata di Indonesia. Buku ini berisi 30 cerita dan berhalaman 221. Karena ditulis ole penulis pemula maka bahasa yang digunakan pun mudah dimengerti dan tidak membosankan. Buku ini cocok dijadikan bahan referensi lokasi wisata untuk berlibur di akhir pekan.

Happy reading !!

Selasa, 05 Agustus 2014

Gunung Prau: Edisi Petualangan di Dataran Tinggi Dieng

Sebelumnya aku tidak pernah tau tentang keberadaan gunung ini. Aku tak pernah mendengar orang membicarakan ini. Malah aku mengira gunung ini adalah Gunung Tangkuban Perahu yang ada di Jawa Barat. Ternyata  memang beda, yang ini ada di Jawa Tengah.

Gunung Prau terletak di 4 wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Bajarnegara, Wonosobo, Batang, dan Kendal. Memiliki ketinggian 2565 mdpl gunung ini memang tergolong pendek. Terdapat 2 jalur pendakian yaitu jalur Desa Kenjuran, Kecamatan Sukoreja dan jalur Desa Patang Banteng di Dataran Tinggi Dieng. Kali ini kami memilih untuk mendaki lewat jalur Desa Patang Banteng.

Beberapa hari sebelum hari pendakian, aku mencari-cari info tentang Gunung Prau di internet. Tentang keunikannya, jalur pendakian, cerita-cerita dari yang sudah pernah mendaki, dan juga gambar-gambar keindahannya. Cerita tentang bukit teletubies yang terletak di puncaknya membuatku penasaran. Apa bener film Teletubies syutingnya di sini? Bukannya itu di luar negeri ya?

Aku pergi mendaki bersama teman-teman sekelas. Kami sebut diri kami “E2 Rock n Roll” alias Education 2 Rock n Roll. Kami semua adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Unissula Semarang. Sebenarnya ini petualangan kedua kami di Dataran Tinggi Dieng. Namun, pendakian sebelumnya di Gunung Sikunir aku tidak ikut.

Petualangan bermula di Desa Patang Banteng. Basecamp di sini terletak di belakang sekolah TK. Awalnya sempat bingung mencarinya. Aku kira malah nyasar atau salah tempat. Namun, berkat petunjuk sebuah tanda panah merah di tembok akhirnya kami tiba di basecamp.
Peta jalur pendakian via Desa Patang Banteng


Di sekitar basecamp terdapat banyak sekali penjual Carica. Itu lho manisan pepaya khas Dieng. Dengan selembar uang 5000 atau 10 koin 500an kita sudah bisa mendapat 1 mangkuk Carica khas Dieng.

Awal-awal mendaki, kiri kanan jalan terdapat lahan pertanian milik penduduk. Macam – macam sayuran yang ditanam ada tomat, kubis, sawi putih, kentang, dll. Aku kagum sekali melihat hamparan berhektar-hektar kebun sayuran di sini yang sebelumnya hanya ku lihat lewat tv atau internet saja.  Inilah salah satu dari ratusan keindahan di Dataran Tinggi Dieng.

Setelah cukup jauh berjalan melewati kebun-kebun sayuran, tibalah kami di daerah yang banyak pepohonan. Pohon-pohon disini kecil-kecil hanya beberapa saja yang besar. Jalurnya licin dan terjal. Tak jarang kami harus merangkak dan terpeleset saat berjalan. Di tambah jarak antar pohon yang cukup jauh, menyulitkan kami untuk mencari pegangan agar tidak jatuh terpleset. Terpaksa kami harus berpegangan pada batu atau gundukan tanah. Alhasil tangan menjadi blepotan tanah dan kuku2 menghitam.

Ada kejadian yang entah aku harus bersedih atau tertawa. Sampai sekarang pun aku masih sulit untuk mempercayainya. Ini bisa juga disebut sebagai tragedi. Ya tragedi Bani minum spirtus.

Seorang mahasiswa kampus swasta di Semarang berinisial B telah meminum spirtus saat mendaki Gunung Prau. Diduga pelaku mengira air yang diminumnya adalah air mineral biasa. Setelah menyadari bahwa air tersebut terasa panas di mulut, pelaku langsung menghentikan aksinya. Terdakwa berinisial P mengaku tidak sengaja mengambil botol air mineral yang salah kepada pelaku. Untungnya tidak terjadi apa2 pada B. Hanya terasa pusing saja ujarnya. Sekian berita terkini yang saya laporkan langsung dari Gunung Prau. Saya Isna Pertiwi selamat sore.

Mungkin begitu kiranya jika ada wartawan yang tak sengaja lewat di situ. Untung saja Bani tetep sehat bisa jalan. Pras yang tidak sengaja melakukannya langsung jadi bahan bulyan teman-teman. Hahahaha. Lain kali botolnya harus ditulis pake spidol permanen biar gag ketuker.

Kami mulai mendaki sekitar pukul setengah empat. Jam setengah 6,  tanda2 puncak sudah dekat belum juga terlihat. Batu2 besar dan tak adanya pepohonan biasanya menandakan bahwa puncak tak jauh lagi. Padahal hari sudah mulai gelap dan adzan maghrib sebentar lagi akan berkumandang.
sore di Gunung Prau


Hari sudah benar-benar gelap. Matahari sudah kembali keperaduannya diganti dengan jutaan bintang-bintang. Meski banyak namun cahayanya tak mampu menyinari perjalanan kami.

“Senter mana senter”. Sekarang senter yang menjadi penerangan andalan. Karena tidak semuanya membawa senter, aku meminjamkan senterku ke teman yang jalan paling depan. Alhasil aku banyak kesandung dan utung saja tidak sampai jatuh.

Jam 7 kami tiba di puncak. Temanku yang jalan paling depan berteriak kegirangan ketika melihat tenda-tenda yang berdiri.”Hayyyy puncak-puncak cepet cepet sini. Liat tu ada tenda-tenda”... Semua senang. Akhirnya setelah perjalanan selama 3 setengah jam kami tiba di tujuan.


3 tenda kami dirikan. 2 tenda cewek dan 1 tenda besar untuk cowok. Makan malam kami kali ini cukup dengan mie instan dan energen. Semua kenyang, semua senang.

Brrrrrrr.....malam itu adalah malam paling dingin seumur hidupku. Kaos panjang, jaket 2 lapis, kaos kaki, celana training panjang, rok panjang, kaos kaki, kerudung panjang, dan selimut, semua aku kenakan masih saja terasa sangat dingin. Hanya sesekali angin menggoyangkan tenda tapi terasa sangat dingin. Hanya ada 1 kata untuk mendeskripsikan malam itu yaitu DINGINNNNNNNNN. Aku ingin pagi cepat datang.

Pemandangan matahari terbit menjadi buruan kami pagi itu. Namun sayangnya kabut tebal tak mau mengalah pada kami. Hanya sesekali saja kabut pergi. Pada saat kabut menipis, aku tak sia-siakan kesempatan ini untuk berfoto berlatar pemandangan gunung Sindoro dan Sumbing serta langit yang berwarna orange.

Aku takjub pada tempat ini. Bukit teletubies yang menjadi bayanganku sedari kemarin, sekarang aku berdiri diantaranya. Tempat nyata dan seindah yang aku lihat di internet. Bunga-bunga kecil menyelimuti dan menambah keindahannya. Dan tentu saja film teletubies tidak mengambil latar di sini hahaha itu cuma khayalanku saja. Pantas saja jika gunung ini mendapat julukan Gunung seribu bukit.                              

                                
Aku tidak menyesal pergi ke tempat ini. Walaupun jalannya licin dan terjal serta sehingga aku sering terjatuh. Perjalanan ini mengajariku banyak hal tentang mensyukuri nikmat, mengagumi keagungan ciptaan Allah, dan mengetahui kekayaan dan keindahan alam Indonesia. Jujur setelah perjalanan ini aku semakin yakin untuk tetap tinggal di Indonesia. Beberapa waktu yang lalu aku sempat berniat untuk pergi belajar ke luar negeri. Namun, setelah semakin dalam mengenal Indonesia, aku semakin niat itu aku ikhlaskan.


Bersambung ke petualangan selanjutnya...

subuh di puncak Gunung Prau

ini kami rakyat E2

pemandangan Gunung Sindoro dan Sumbing di Gunung Prau

bukit teletubies

hamparan bunga-bunga di bukit teletubies

Sabtu, 02 Agustus 2014

Family Time

Hari ini aku tidak berencana untuk pergi kemana pun. Menghabiskan waktu dengan menonton tv, mengecheck status teman2 di sosmed, dan menulis lebih aku sukai daripada pergi keluar rumah. Alasanya simple, aku malas mandi dan dandan. Ya inilah aku.

“mau ikut gag ke salatiga?” tanya ibuku

“ngapain ?” sambil memencet tombol
chanel di remote tv

“nganter ibuk ngambil obat”

“gag mau” dengan nada malas

“Rizalllllllllllll cepet mandi ikut bude jalan-jalan ke Salatiga” teriak ibukku di teras rumah memanggil adik sepupuku yang berusia 7 tahun.

“tungguuu aku mau mandi dulu ya bude” sahut adikku

“rizal ikut buk?”

“iya. Sono cepet mandi. Biasanya kamu lama mandi sama dandannya”

Aku berubah pikiran. Aku pikir jalan-jalan berdua dengan ibukku saja akan membosankan. Kalau Rizal adikku ikut pasti akan seru.

Aku bergegas menyiapkan baju yang akan ku pakai: kaos garis-garis warna kuning abu2, rok jeans biru muda, jilbab pasmina motif wajik warna-warni. Sebernarnya gag maching sih antara jibab sama kaosku. Tapi tak apalah aku lagi seneng pake jilbab ini. Masih baru gitu lohhhh hehe.

Setelah mandi bersih, saatnya dandan cantik. Pembersih, penyegar, pelembab, bedak padat sudah teroles mulus di wajahku. Jilbab pasmina motif wajik ku pakai dengan model sederhana diputar dari ujung ke ujung. Cukup dengan 2 peniti saja. Sandal croc bahan plastik warna active green memang tidak matching dengan busanaku tapi berhubung itu adalah sandalku satu-satunya dirumah jadi kemana pun aku pergi sandal itu selalu ku pakai.

Rizal sudah siap sedari tadi. Sambil menunggu semua siap dia menonton acara tv kesayangannya: upin dan ipin. Dengan kaos putih panjang dan celana jeans army warna hijau dia kelihatan tampan sekali.

Ternyata Naswa, adik sepupuku dan adik kandung Rizal, juga ingin ikut. Dia iri kakaknya akan pergi jalan2 dan tidak menemaninya bermain di rumah untuk hari ini. Aku senang dia ikut. Walaupun aku tau pasti akan repot mengurus 2 anak sekaligus.

Seperti biasa aku selalu menjahilinya. Sambil menunggu ibuk selesai berdandan dan mobil dipanaskan aku menggodanya di teras rumah.

“Haiyoooo nanti Naswa ditinggal. Gag jadi di ajak jalan2” aku pegang kedua tangannya dan aku ayunkan kanan kiri sambil duduk di kursi teras.

“Halahhhhhh ikutttt” dengan nada bicara naik turun khas anak kecil.

“Ngak boleh ikut. Naswa gendut nanti mobilnya gag cukup”

“Halahhhhhh ikutttt” tangan kanannya mencubit pahaku.

“Ngak boleh ikut. Naswa gendut. Naswa gendut”

Kali ini dia tak menjawab. Hanya saja wajahnya menunduk dan kedua tangannya memukul2 pahaku. Kemudian dia menangis keras sekali hingga ibunya mendengar. Seperti biasa akhirnya aku kena omelan.

Semua sudah siap berangkat. Naswa hampir saja tidak jadi ikut karena aku hahaha. Aku memang kakak sepupu yang jahil.

Selama perjalanan aku menghibur Naswa dengan menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu anak2 yang aku gubah liriknya.

Pada hari Jum’at ku turut budhe ke kota
Naik mobil istimewa ku duduk di tengah
Di blakang pak sopir yang sedang bekerja
Mengendarai mobil supaya baik jalannya

Ibu sudah lama sakit pencernaan. Sudah berbagai macam pengobatan dijalaninya. Mulai dari dokter spesialis, opname di rumah sakit, pijat sumpit, hingga ramuan obat cina. Dan yang terakhir ini beliau berobat ke seorang anak indigo dengan ramuan obat parutan jahe untuk dioles keseluruh badan sebelum tidur, ramuan jamu diminum setiap hari, dan air khusus. Aku tidak tau air itu air apa. Jika dilihat memang seperti air biasa, jernih dan tidak berbau.

Seperti yang ibu janjikan, setelah mengambil obat kami pergi jalan2 menikmati sisa2 hari libur lebaran di alun2 kota Salatiga atau biasa juga disebut lapangan Pancasila.

Lapangan Pancasila merupakan pusatdari Kota Salatiga. Di sebelah timur terdapat Kantor Pemkot Kota Salatiga dan Kantor DPRD Kota Salatiga. Di sebelah barat terdapat masjid besar dan kampus STAIN.Kantor samsat dan Polres di sebelah selatan dan utara lapangan. Di bagian timur lapangan ada 3 patung pahlawan nasional yang berasal dari Salatiga. Ketiganya adalah Brigjen Sudiarto, Laksamana Madya Yosaphat Soedarso, dan Marsekal Muda Agustinus.

Bila berkunjung ke Salatiga tak lengkap rasanya bila tak mampir ke tempat yang satu ini. Lapangan Pancasila tak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga malam hari. Setiap pagi tempat ini berfungsi sebagai jogging area. Di sana juga terdapat berbagai macam warung tenda yang menjual berbagai macam makanan. Ada bakso, mie ayam, gado-gado, nasi pecel, batagor, es buah, dll. Yang paling terkenal dan banyak diminati adalah batagor dan es buah. Di sana terdapat mobil atv, skuter teletubies, dan mobil-mobilan yang disewakan. Harganya cukup terjangkau. Dengan uang 10000 bisa menyewa mobil-mobilan untuk satu kali putaran dan mobil ini bisa diisi hingga 6 org. Untuk menyewa mobil atv cukup membayar 5000 saja untuk 2 kali putaran. Murah sekali bukan.

Rizal dan Naswa ingin naik mobil atv. Ku keluarkan lembar 5000an dari dompet. Mereka kelihatan tidak sabar ingin segera menaikinya. Setelah mengantri beberapa menit akhirnya tiba juga giliran mereka. Mobil atv warna hijau army siap dikendarai. Sebenarnya mobil ini bisa dinaiki 2 orang sekaligus. Namun untuk keamanan ibukku meminta Rizal menaikinya sendiri di putaran pertama lalu giliran Naswa untuk putaran kedua. Mereka terlihat bahagia sekali.

Kota Salatiga adalah kota yang indah. Umumnya kota identik dengan sampah, macet, dan panas. Namun Salatiga lain. Kota ini sejuk, tidak macet, tidak ada sampah, dan banyak akses transportasi umum. Di sisi-sisi jalan raya terdapat trotoar yang luas untuk pejalan kaki. Salatiga merupakan kota kecil yang damai.

Selasa, 28 Januari 2014

Berburu Sunrise di Puncak Gunung Ungaran

Gunung Ungaran adalah gunung yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Gunung ini memiliki tinggi 2050 di atas permukaan laut. Jika kita berbicara tentang Gunung Ungaran maka kita juga akan berbicara tentang Gedong Songo, Pemandian Sidomukti, perkebunan bunga dan buah kelengkeng. Saking terkenalnya buah kelengkeng khas daerah ini, penyanyi campur sari Didi Kempot mengarang lagu yang diberi judul “KELENGKENG BANDUNGAN” (bandungan: nama salah satu kecamatan di Gunung Ungaran).


Saat mendaki tim kami memilih jalur Jimbaran. Basecamp di sini diberi nama “Basecamp Mawar”. Sudah bisa ditebak mengapa tempat ini diberi nama mawar. Banyak tumbuh bunga mawar di sini. Dari basecamp mawar kita bisa melihat pemandangan Kota Ungaran dan Ambarawa di bawah. 

Aswan n Fitri menuju puncak


Dari basecamp mawar menuju puncak membutuhkan waktu 6 jam. Jika ingin berburu sunrise disarankan untuk melakukan pendakian di malam hari . Dan ketika azan subuh berkumandang kita akan mendapat kejutan dari timur. Yap , SUNRISE.

Ada sensasi yang berbeda saat menunaikan sholat subuh disini. Kalau biasanya kita sholat subuh dirumah menghadap tembok, di sini kita sholat subuh menghadap alam. Kita bener-bener bisa mengagumi ciptaan Allah. Dari pemandangan kota di bawah, matahari terbit, samudra awan, dan keindahan alam lainnya. Baru kali ini aku dibuat gag berhenti-henti bilang Subhanallah.



Saat perjalanan pulang kami bertemu dengan sekawanan anjing pemburu. Aku kira anjing-anjing ini adalah anjing liar. Kira-kira jumlahnya lebih dari sepuluh. Ternyata anjing-anjing ini ada yang punya. Masyarakat sekitar memelihara anjing untuk berburu babi hutan. 

Ini adalah pengalaman pendakian pertama yang keren banget. Aku jadi pengen muncak lagi. Ke Merbabu, Merapi, Lawu, kemana aja deh yang penting mendaki. Alasan aku pengen mendaki lagi adalah ingin melihat keindahan ciptaan Allah yang lainnya. Bukannya sok alim gals tapi ini 100% jujur.

Feel FREE

Istirahat di kebun teh

Sunrise

Unissula n Mitra Petualang